Kekerasan di Dunia Pendidikan Indonesia: Warisan Dehumanisasi Kolonial sampai Kerentanan Maskulinitas

Kekerasan di Dunia Pendidikan Indonesia: Warisan Dehumanisasi Kolonial sampai Kerentanan Maskulinitas

Kiranya saat ini kita masih kesulitan dalam mendefinisikan terma kekerasan serta mengklasifikasikan suatu fenomena ke dalam beberapa kategori bentuk kekerasan. Terlebih untuk menginterpretasikan bentuk kekerasan dalam institusi pendidikan, begitu banyak persinggungan antara tradisi dan kebudayaan dengan cita-cita sistem pendidikan yang ideal. Implikasi nyata yang kemudian kita alami adalah kesemenjanaan diri dalam menilai kekerasan yang berakhir dengan sikap memafhumkan bentuk kekerasan dalam dunia pendidikan atas nama etiket serta konservatisme. Sistem nilai institusi pendidikan yang ditanamkan pada agenda rutin perpeloncoan, bullying, kekerasan fisik hingga kekerasan seksual berpotensi dialami oleh seluruh pihak baik siswa maupun tenaga pendidik. Masih hangat tersiar berita di telinga kita kasus pemukulan seorang siswa terhadap guru salah satu sekolah menengah atas di Madura yang berakhir dengan tewasnya guru tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa tiada satu orang pun dapat bebas dari jeratan ancaman kekerasan dalam institusi pendidikan. Adapun kasus kekerasan lain yang terjadi beberapa tahun yang lalu, yaitu pembunuhan berencana yang dilakukan oleh salah satu mahasiswa di Medan kepada dosennya dengan motif rasa tidak puas atas nilai yang ia dapat dari dosen tersebut. Menariknya, respons yang muncul dari masyarakat atas fenomena ini terbagi menjadi dua kubu bersebrangan: banyaknya masyarakat yang mengutuk keras tindakan sadisitik yang dilakukan oleh sang mahasiswa, namun tidak sedikit masyarakat yang beranggapan bahwa kejadian ini dapat menjadi media pembelajaran bagi tenaga pendidik yang tidak profesional atau bertindak terlalu keras dalam mendidik.

Munculnya opini masyarakat yang secara implisit ‘mendukung’ tindakan mahasiswa tersebut menandakan betapa kentalnya disharmonisasi hubungan antara tenaga pendidik dan siswa. Bisa jadi karena represi yang terlalu lama terendap, emosi siswa menjadi eksplosif dan tak dapat terelakkan lagi. Menelusuri rekam jejak sejarah tindakan kekerasan dalam dunia pendidikan di Indonesia, data International Center for Research on Women (ICRW) menunjukkan bahwa pada tahun 2015 sebanyak 84% peserta didik di Indonesia mengaku pernah mengalami kekerasan di lingkungan sekolah dan 75% siswa mengaku pernah melakukan aksi kekerasan di lingkungan sekolah. Bahkan di beberapa daerah di Indonesia seperti Papua dan Papua Barat ‘melazimkan’ tindakan kekerasan di sekolah. Realita bahwa hukuman emosional dan fisik dari guru terhadap murid masih banyak dijumpai di sana, lebih dari 60% pengajar dilaporkan kerap menggunakan hukuman fisik terhadap peserta didiknya (hasil Multiple Indicator Cluster Survey Unicef, 2011). Sejumlah 54% sekolah di sana juga mempraktikkan cara hukuman fisik yang berat kepada peserta didik. Alasannya klasik; para guru mengaku angkat tangan dan tidak tahu harus bagaimana lagi untuk mendisiplinkan para siswa.

Dari sudut pandang historis, kerangka praktik relasi-kuasa yang terjadi pada era feodalisme turut andil dalam pelanggengan praktik kekerasan di ranah pendidikan. Terbentuknya stratifikasi sosial berdasarkan ras dan tingkat ekonomi yang diprakarsai oleh para penjajah Belanda dilakukan dengan tujuan kepentingan politik bermuara pada mobilitas masyarakat pribumi yang terhambat. Sebagai contoh, praktik perbudakan yang dikenakan pada pribumi dengan tingkat ekonomi rendah dihiasi oleh berbagai tindakan penindasan dan penyiksaan dari kaum penjajah, kaum budak kemudian teralienasi dan masuk dalam lingkaran kemiskinan sistemik. Di dunia pendidikan, akses pendidikan secara sengaja dibuat terbatas dan hanya bisa diakses oleh kaum priyayi, berdampak pada nilai prestise tersemat secara inheren pada kaum terdidik dan khususnya tenaga pendidik. Eksklusivitas yang terbentuk pada akhirnya melegitimasi hirarki antara pihak yang terlibat dalam struktur lingkungan belajar, dan masyarakat secara instingtif dapat dengan mudah menerima konsep ini karena bagian dari repetitif relasi-kuasa dalam lapisan sosial. Perpeloncoan, senioritas, dan tindakan ‘main fisik’ di lingkungan sekolah ‘mensahihkan’ petilasan kolonialisme dalam bentuk pengejawantahan dari hubungan antara kaum proletar dan borjouis dalam bentuk perbudakan yang modern.

Lain halnya bila kita menggunakan kacamata maskulinitas, kita dapat melihat bahwa budaya kekerasan dalam pendidikan merupakan pengaruh dari kedudukan gender yang terinternalisasi pada masyarakat. Maskulinitas dianalogikan sebagai perwujudan kekuatan yang identik dengan kemampuan fisik dan teraliansi dengan sikap hegemoni serta subordinasi. Laki-laki yang tidak mampu mencapai indikator machoism secara otomatis dianggap bukan laki-laki sejati. Oleh karena itu, kekerasan dibenarkan sebagai arena pembuktian kelaki-lakian seseorang dan secara nyata dibuktikan dengan keterlibatan kekerasan di sekolah dalam bentuk bullying, tawuran, dan lain sebagainya. Kekerasan juga dapat menjadi sarana ekspresi dari kerentanan maskulinitas yang dialami oleh seorang laki-laki disaat dirinya tidak dapat mencapai standar maskulinitas. Nasib guru honorer dengan gaji minim ditambah konstruksi sosial yang mengharuskan laki-laki bertanggung jawab dalam bentuk pemenuhan nafkah keluarga contoh konkrit beban psikis yang dapat menjadi salah satu pemicu terjadinya kekerasan di dalam kelas antara guru laki-laki dan muridnya.

Kecenderungan pendidikan Indonesia yang stato-centris, di mana guru menjadi pemegang kuasa kontrol atas keberlangsungan pengajaran, sangat jelas tidak relevan untuk diaplikasikan karena begitu banyak dampak negatif yang dihasilkan seperti yang telah dijabarkan dari berbagai contoh kasus di atas. Sudah saatnya tenaga pendidik duduk sejajar bersama dengan siswa serta orangtua untuk bersinergi menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman serta meminimalisir hirarki antara seluruh pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan. Hal ini sangat diperlukan karena walau negara telah membuat peraturan perundang-undangan untuk melindungi anak dari tindak kekerasan tercatut pada UU Nomor 35 Tahun 2014, upaya tersebut tidak dapat digunakan menjadi senjata utama dalam mengentaskan kekerasan dengan korban anak. Penyejahteraan guru dan mengapresiasi dedikasi yang telah dilakukan oleh para guru juga dapat digunakan sebagai salah satu jalan keluar menyudahi tindak kekerasan dalam pendidikan selain menciptakan lingkungan pendidikan yang sadar kekerasan lewat pemberian edukasi.

Kontributor : Izmy

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Pola Ritme di Mahjong Wins 3 Mengendalikan Simbol dan Mengisyaratkan Gangguan Jalur Permainan Secara Menyeluruh
Batas Kritis 12 Fase Peralihan di Mahjong PG Mulai Merusak Keterkaitan Pola yang Sebelumnya Tetap Stabil
Distribusi Simbol 3 Banding 1 di Mahjong Wins 3 Mendorong Perbedaan Arah Permainan yang Semakin Tidak Seimbang
Pendekatan Spasial Temporal pada Interaksi Reel Mahjong PG Mengungkap Susunan Tersembunyi yang Sulit Terlihat
Strategi Adaptif di Mahjong Wins 3 Dipakai untuk Memburu Scatter Hitam Saat Irama Putaran Berubah Tajam
Analitik Prediktif dan Sistem Dinamis Membentuk Strategi Baru demi Mendorong Keputusan yang Lebih Terukur
Data RTP Terbaru Dimanfaatkan untuk Menilai Sesi Secara Lebih Presisi Lewat Catatan yang Tersusun Rapi
Peningkatan Pencarian Kasino Online Hari Ini Muncul Seiring Pola Permainan Baru yang Membantu Membaca Ritme
Perubahan Strategi Berbasis Analitik Prediktif dan Sistem Dinamis Membawa Arah Baru bagi Keputusan yang Lebih Efektif
Pergerakan RTP Live Kini Dibaca Lewat Data Digital dengan Validasi Baru dan Uji Konsistensi yang Lebih Akurat
Pemain Mahjong Ways Mulai Menyesuaikan Pola Main Saat Fluktuasi Muncul Dan Arah Real Time Berubah
Pergeseran Tren Artificial Intelligence Membuat Cara Audiens Mengikuti Mahjong Ways Ikut Berubah
Ritme Mahjong Ways Di Periode Blackjack Berubah Saat Aktivitas Pemain Dipengaruhi Komunitas Deep Learning
Frame Persistence Di Mahjong Wins 3 Menjadi Sorotan Saat Tampilan Tertahan Menjelang Update Real Time
Micro Feedback Artificial Intelligence Di Mahjong Ways 2 Muncul Saat Elemen Real Time Belum Bergerak
Grid Sistemik Artificial Intelligence Bertingkat Di Mahjong Ways 2 Menarik Dibahas Pada Mesin Kasino Modern
Sistem Interaktif Berbasis Automasi Di Mahjong Ways 2 Dirancang Untuk Meningkatkan Keterlibatan Komunitas Gamer
Strategi Gamer Mahjong Ways Modern Mulai Terbaca Lewat Data Algoritma Robotic Deep Learning Terbaru
Pemetaan Minat Pembaca Mahjong Ways 3 Mengarah Pada Hubungan Blackjack Dan Komunitas Konten Digital
Analisis Data Robotic Artificial Intelligence Menghadirkan Teknik Baru Mahjong Ways Untuk Gamer Modern
Ritme Pola di Mahjong Wins 3 Mulai Mengatur Gerak Simbol dan Menandai Gangguan Arah Permainan Secara Luas
Ambang Kritis 12 Tahap Transisi di Mahjong PG Mulai Mengganggu Keterhubungan Pola yang Sebelumnya Stabil
Komposisi Simbol 3 Berbanding 1 di Mahjong Wins 3 Memicu Arah Permainan yang Kian Tidak Seimbang
Optimasi Metode Probabilistik Spasial Temporal pada Interaksi Reel Mahjong PG Membuka Susunan Tersembunyi yang Sulit Ditangkap
Strategi Adaptif di Mahjong Wins 3 Mulai Digunakan untuk Mencari Scatter Hitam Saat Ritme Putaran Berubah Drastis
Tren Analitik Prediktif dan Sistem Dinamis Melahirkan Pendekatan Baru untuk Menentukan Langkah yang Lebih Terukur
Metodologi Pemanfaatan Data RTP Terbaru Membantu Menilai Jalannya Sesi dengan Lebih Presisi Melalui Catatan yang Tertata
Fenomena Lonjakan Pencarian Kasino Online Hari Ini Terlihat Bersamaan dengan Munculnya Pola Baru untuk Membaca Ritme
Transformasi Strategi Berbasis Analitik Prediktif dan Sistem Dinamis Membuka Arah Segar bagi Keputusan yang Lebih Efisien
Ritme Micro Feedback AI di Mahjong Ways 2 Mulai Terbaca Saat Pergerakan Real Time Masih Tertahan
Perubahan Irama Mahjong Ways pada Fase Blackjack Mulai Terlihat Setelah Aktivitas Pemain Dipengaruhi Komunitas Deep Learning
Pola Audiens dalam Mengikuti Mahjong Ways Kini Makin Selaras dengan Arah Baru Tren Artificial Intelligence
Sistem Interaktif Mahjong Ways 2 Berbasis Automasi Dirancang untuk Memperkuat Keterlibatan Komunitas Gamer
Analisis Data Robotic AI Mulai Membuka Teknik Bermain Mahjong Ways yang Lebih Relevan bagi Gamer Masa Kini
Simbol Statistik Mahjong Ways Kian Dinamis Ketika Laju Animasi Digital Bergeser Mengikuti Irama Permainan
Strategi Gamer Mahjong Ways Modern Mulai Terpetakan Lewat Data Algoritma Robotic Deep Learning Generasi Terbaru
Pemetaan Minat Pembaca Mahjong Ways 3 Mengarah pada Kaitan Blackjack dengan Komunitas Konten Digital
Pola Bermain Pemain Mahjong Ways Semakin Fleksibel Saat Fluktuasi Muncul dan Arah Real Time Berubah
Pendekatan Grid Robotic pada Mahjong Ways 2 Dikaji Lewat Rancangan Arsitektur Komputasi yang Lebih Bertingkat
Saat Pembacaan Real Time Berubah Di Tengah Fluktuasi, Pemain Mahjong Ways Mulai Menyusun Ulang Pendekatan Bermain
Langkah Pergeseran Anomali Tren AI Membuat Cara Audiens Mengikuti Perkembangan Mahjong Ways Ikut Berubah
Ritme Mahjong Ways Di Fase Blackjack Tidak Lagi Sama Setelah Aktivitas Pemain Dipengaruhi Komunitas Statistik
Menjelang Pembaruan Real Time, Isu Frame Persistence Di Mahjong Wins 3 Mulai Mencuri Perhatian Karena Tampilan Sempat Tertahan
Panduan Arsitektur Grid Game Bertingkat Pada Mahjong Ways 2 Kini Makin Ramai Diperbincangkan Di Era Mesin Kasino Modern
Mahjong Ways 2 Menghadirkan Sistem Interaktif Real Time Berbasis Automasi Untuk Memperkuat Keterlibatan Komunitas Gamer
Pemetaan Minat Pembaca RTP Terhadap Mahjong Ways 3 Kini Banyak Mengarah Pada Hubungan Blackjack Dan Komunitas Konten Digital
Pendekatan Baru Terhadap Mahjong Ways Mulai Terbentuk Lewat Analisis Data Efektivitas Yang Dibaca Gamer Modern
Saat Elemen Real Time Belum Bergerak, Sinyal Micro Feedback Kasino Online Di Mahjong Ways 2 Mulai Tampak Lebih Jelas
Data Terbaru Dari Algoritma Robotic BBM Mulai Mengungkap Pola Strategi Gamer Mahjong Ways Era Sekarang
Saat Kecepatan Animasi Digital Berubah Simbol Mahjong Ways Terlihat Semakin Lentur Mengikuti Ritme Permainan
Kisah Harian Ibu Rumah Tangga Saat Menata Disiplin Waktu Ketika Mencoba Mahjong Ways 2
Perubahan Irama Animasi Digital Membuat Simbol Mahjong Ways Tampak Lebih Mudah Beradaptasi Dengan Alur
Struktur Robotic Grid Berbasis AI Di Mahjong Ways 2 Dikaji Lewat Pendekatan Arsitektur Komputasi Bertingkat
Ragam Hasil Pada MahjongWays Dijelaskan Dengan Analisis Stokastik Untuk Memahami Unsur Ketidakpastian
Selisih Hasil Di MahjongWays Diuraikan Melalui Analisis Stokastik Dalam Membaca Sisi Ketidakpastian
Sistem Real Time Berbasis Automasi Di Mahjong Ways 2 Dirancang Untuk Menguatkan Keterlibatan Komunitas Gamer
Peta Ketertarikan Pembaca Mahjong Ways 3 Mulai Mengarah Pada Hubungan Blackjack Dan Komunitas Konten Digital
Analisis Data Robotic Berbasis Artificial Intelligence Menghadirkan Sudut Pandang Baru Tentang Mahjong Ways Bagi Gamer Masa Kini
Grid Artificial Intelligence Bertingkat Di Mahjong Ways 2 Semakin Sering Dibahas Dalam Lanskap Mesin Kasino Modern